Anak kita adalah cerminan kita di masa lalu ? Benarkah itu ?? Lihat jawabanya !!!

Anak ya anak adalah titipan sang Ilahi pada kita untuk dibesarkan dan dididik untuk bekal hidupnya kelak ketika dewasa  di jalan Allah SWT.Sebuah harta yang tidak ternilai harganya dibandingkan dengan apapun didalam sebuah kehidupan berkeluarga.Setuju??

Seiring dengan waktu nya berlalu di dalam kehidupan semua orang tua akan mengetahui dan segera menyadari  apa yang seharusnya dulu lakukan sewaktu kita masih anak anak dan juga masa masa masih remaja yang seharusnya kita lakukan untuk membuat sebuah pondasi kuat menuju kesuksesan lahir dan batin,dunia maupun akhirat.

 

Seperti contohnya salah satu keluarga yang kesehariannya adalah tukang kerja serabutan di kampungnya,setelah bertahun tahun merasakan hidup berumah tangga,dia menyadari andaikan dulu sekolahnya tidak putus ditengah jalan,dan andai saja waktu setelah waktu putus sekolah dia ikut temannya kerja di luar pulau Jawa,dan andaikan dia sewaktu masih berusia 19 tahun tidak cepat cepat mempunyai hubungan dengan seorang wanita,mungkin disaat usia menjelang 20 tahun dia  tidak akan segera menikah,andaikan saja dulu sebelum menikah mencari pekerjaan tetap dahulu,andaikan dan andaikan dan sebagainya.

Tapi tentunya itu hanyalah contoh kecil,kita juga yakin bahwa banyak sekali orang orang yang membuat dan mengalami masa remajanya yang sangat berarti dan membuat langkah langkah penting dan tentunya sekarang menuai hasilnya dengan kesuksesan baik lahir maupun batin.Mudah mudahan kita termasuk yang ini.
Itulah beberapa bayangan andaikan saja andaikata dan andai bisa kembali dengan mesin waktu ke waktu lalu kita remaja ,dia akan pergi untuk memperbaiki garis start kehidupannya dari awal.Terlambat sobat,walaupun hidup adalah pilihan,dan kita tentu bisa memilih,tapi kita tidak mungkin memilih langkah yang lain diwaktu lima belas tahun kebelakang,karena yang lalu adalah pilihan masa lalu,pilihan hanya bisa dilakukan ketika di saat kita berada tepat pada waktunya di sebuah persimpangan besar kehidupan,bukanlah sebuah persimpangan kecil yang nanti nantinya bersambung kembali ke jalan kehidupan utama yang sedang kita lalui .
Penyesalan selalu terjadi belakangan,apalah daya jarum jam berputar kekanan,kehidupan bukanlah sebuah setrikaan yang bisa dibolak balik sesuai kebutuhan.Sebuah keputusan di masa masa lalu akan dbayar mahal oleh kehidupan sekarang yang kita lalui,apakah kita harus merasa bersalah,ataukah kita harus menyalahkan orang lain,haruskah kita meratapi kehidupan ini?
Oh tidak,sebagai orang beragama,kita selayaknya selalu punya pondasi kuat,syukuri dan nikmati,pikirkanlah masa depan,persetan masa lalu,songsong masa depan dengan sepenuh tenaga dan keyakinan.Itu !!!!!.
Hanya saja sobat,salah pilihan dan salah langkah kita dulu pada kehidupan sendiri,mempengaruhi besar pada cara mendidik anak kita dimasa sekarang.Kita sebagai orang tua yang dianggap oleh diri kita sendiri gagal dalam meraih kesuksesan tentunya tidak ingin anak kitapun salah langkah juga dan salah pilih juga,setuju!!!.
Disinilah situasi yang sama orang tua juga berada pada situasi  lagi berada di persimpangan bukan saja persimpangan dua arah,tapi empat arah.Kenapa bisa begitu,karena langkah kita berpengaruh pada jalan kita sendiri sebagai orang tua dan jalan kehidupan anak kita sendiri selanjutnya.
Bebarapa hal yang harus dipertimbangkan adalah :
  1. Kenali kepribadian anak kita,jangan jangan karena satu DNA dan keturunan kita sendiri,anak kita juga bisa jadi kepribadian nya sama dengan kita dulu.Ingat ada kata pepatah,“anak kita adalah cerminan kita di masa lalu”.
  2. Kenali apakah kepribadiannya anak kita condong keibunya atau kebapaknya? Atau campuran keduanya?
  3. Apakah anak kita dominasi kepribadiannya berbeda dan berdiri sendiri walapun tentu ada beberapa hal yang mendekati salah satu kepribadian orang tuanya?
  4. Wah wah kita kan bukan psikiater,kita bukanlah ahli jiwa,terus apa yang harus kita perbuat?
Disinilah sobat kita dituntut menjadi orang tua yang profesional ,tentunya kita juga tahu bahwa tidak ada kurikulum khusus untuk orang tua belajar secara formal,namun dari segi keagamaan yang kita anut sudah jelas tertulis cara menjalani hidup yang beragama,cara mendidik anak,cara menjalani kehidupan yang baik dan benar dan juga panduan hidup lainnya.
Kebanyakan orang tua akan memilih mendikte  anak agar melakukan apa yang seharusnya anak lakukan,mengingat pengalaman masa masa lalu kita dahulu,yang dulu di saat itu kita salah jalan,dan tentunya kita menyadari disaat usia remaja seperti itu anak akan susah dan tidak akan teliti dalam memilih setiap persimpangan besar dalam hidupnya.Menurut salah satu penelitian bahwa disaat remaja dominasi otak adalah otak depan yang berhubungan dengan emosional.Beda dengan usia orang tua yang lebih dominasi otak belakang dengan rasional yang tinggi ( mohon koreksi jika salah ).Salahkan mendikte anak? Bisa benar bisa salah tergantung kepribadian anak tersebut tentunya.Maka kenalilah sebelum kita mendiktenya.
Ada sebagian orang tua yang memberikan kebebasan keanaknya untuk memilih jalan kehidupannya sendiri,tentunya dengan pertimbangan dan nasehat nasehat yang bijaksana kepada anak dan tentunya juga mengingat serta mempertimbangkan psikologis anak tersebut.
Jalan manakah yang harus kita tempuh? Resikonya tentu ada,semua yang kita putuskan selalu ada resikonya.Pertimbangkanlah apabila terjadi penolakan besar besaran anak pada keputusan kita tentunya kita sebagai orang tua haruslah memahami bahwa bukanlah hanya semata mata kita salah mendidik,ya karena memang anak punya pendapat lain,dan tentunya komunikasi, pendekatan dan berbicara serta perilaku kita terhadap anak,tentunya adalah jalan keluar satu satunya untuk mencapai keputusan yang bisa diterima oleh sang anak maupun kita sebagai orang tua.
Contoh yang paling dahsyat adalah ketika anak memilih pasangan hidup untuknya,dan ternyata pasangan hidup tersebut kurang direstui orang tuanya misal mengingat sejauh yang orang tua ketahui bahwa sang pujaan hati anak kita itu agak nakal,tidak berhijab atau alasan alasan lainnya, maka bantahan dan pemberontakan besar didiri anak akan terjadi.Ingat ada pepatah cinta mengatakan,“apabila seseorang sedang dalam pelukan cinta,mereka tak akan peduli akan dunia disekililingnya” dunia disini bisa kita sebagai orang tua,keluarga besar bahkan lingkungan sekitar.
Kita tentunya akan berkata,nak !, pertimbangkanlah bahwa pujaan hatimu begini begitu,mama kayanya kurang setuju,menurut perasaan mama kamu bisa deh mendapatkan yang lebih dari itu.
Terus perkataan diatas bagaimana tanggapan sang anak mengingat racun dan manisnya cinta melindungi seluruh akal sehatnya?
Kita akan bahas nanti ya,,cape nih udah malam,,,hehe.
Semua orang tua menginginkan anaknya akan lebih sukses lebih bahagia lebih berilmu daripada mereka.